Beranda » Tiga Kesalahan Taktik Pep Guardiola, Beri Kemenangan Liga Champions Cuma-Cuma Chelsea

Tiga Kesalahan Taktik Pep Guardiola, Beri Kemenangan Liga Champions Cuma-Cuma Chelsea

Tiga Kesalahan Taktik Pep Guardiola, Beri Kemenangan Liga Champions Cuma-Cuma Chelsea

Tiga Kesalahan Taktik Pep Guardiola, Beri Kemenangan Liga Champions Cuma-Cuma ChelseaDunia masih kaget. Pep Guardiola 3x ditaklukkan Thomas Tuhel secara berturut-turut di tiga persaingan berlainan, walau sebenarnya bos Jerman itu baru sekitaran 4 bulan bersama beberapa pemain Chelsea semenjak gantikan Frank Lampard di akhir Januari 2021.

Manchester City, di lain sisi, sudah pasti lumrah diunggulkan untuk meraih kemenangan di final Liga Champions karena keunggulan perform dan kualitas tim mereka, tetapi penyakit usang Pep Guardiola yang ‚Äėoverthinking’ kembali kumat dan ini harus dibayarkan mahal dengan kekalahan teamnya di Dragao, Portugal.

Khalayak kaget saat menyaksikan daftar pemain yang di turunkan manager Catalan itu untuk Manchester City dan Chelsea ambil faedah dengan mencetak kemenangan karena gol tunggal Kai Havertz, jadi gelar Liga Champions ke-2 dalam riwayat mereka.

Menurut gilabola, berikut tiga kekeliruan strategi Pep Guardiola di final Liga Champions yang pada akhirnya memberi gelar gratis untuk The Blues yang kurang diunggulkan :

Pertama, Phil Foden di pemain tengah tengah.

Saat sebelum pertandingan final, Phil Foden cuman sekali turun sebagai starter di tiga baris tengah sejajar Manchester City di Liga Champions, yakni dalam pertandingan tandang menantang Olympiakos di babak group. Pada umumnya, ia biasa dimainkan di peranan striker sayap dan tampil mengagumkan di situ.

Tetapi di final Liga Champions, Pep Guardiola secara mengagetkan justru geser pemain berumur 21 tahun itu ke barisan baris tengah dan membuat tidak berhasil mengoptimalkan kreasi dan daya jelajahinya di sepertiga akhir lapangan karena terus memperoleh penekanan dari N’golo Kante dan Jorginho.

Ke-2 , Raheem Sterling starter.

Sesungguhnya ini surprise yang paling mengagetkan dalam starting XI Manchester City, karena di selama musim ini, Raheem Sterling sesungguhnya jadi opsi sekunder di baris depan saat Pep Guardiola lebih menyenangi Phil Foden dan Riyad Mahrez di ke-2 segi sayap gempuran.

Saat sebelum final, bekas filmskifestivalsrbije Liverpool itu cuman sekali turun sebagai starter di enam laga babak luruh Manchester City di Liga Champions dan pada akhirnya saat dimainkan di pertandingan pucuk, ia tampil jelek dan sia-siakan tiga peluang terbuka di muka gawang.

Ke-3 , Ilkay Gundogan di peranan no 6.

Saat sebelum pertandingan final, llkay Gundogan cuman turun sebagai starter sekali sebagai pemain tengah nomor 6 di semua musim Manchester City pada 2020/2021 karena Pep Guardiola punyai pemain tengah bertahan murni pada diri Fernandinho dan Rodri yang umum dimainkan di situ.

Tetapi ke-2 nama paling akhir justru dicadangkan dan pemain tengah Jerman dimainkan dalam peranan no 6, yang pada akhirnya kekosongan pemain tengah protektif murni sukses digunakan Mason Mount untuk mengirimi operan terobosan ke belakang pertahanan Manchester City untuk dituntaskan Kai Havertz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *